SERGAPONLINE.COM PEKANBARU - Proyek pengamanan tebing sungai di Desa Gobah, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, menjadi sorotan publik setelah ditemukan kerusakan pada beberapa titik konstruksi. Proyek senilai Rp17,6 miliar yang dikerjakan PT Amar Jaya Pratama Grup KSO PT Bripona Jaya Abadi dan didanai melalui APBN 2024, menuai kritik tajam, Rabu (30/4/2025).

Pantauan langsung dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Mampir bersama sejumlah awak media sigap menunjukkan bahwa sejumlah bronjong dan turap telah mengalami kerusakan dan roboh, padahal proyek ini belum lama selesai dikerjakan.
Ketua LSM Mampir, Hariyanto, menyampaikan keprihatinannya atas mutu pekerjaan tersebut. "Pekerjaan ini sangat disayangkan, karena belum seumur jagung sudah mengalami kerusakan. Kami mendesak Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS III) di Riau untuk menahan pembayaran dana retensi kepada kontraktor bila pekerjaan tidak sesuai spesifikasi teknis," tegasnya.
Hariyanto juga menekankan agar BWSS III tidak terburu-buru melakukan pembayaran penuh sebelum hasil pekerjaan benar-benar memenuhi standar kualitas. Ia memperingatkan, bila pembayaran tetap dilakukan tanpa evaluasi mendalam, pihak terkait harus siap mempertanggungjawabkannya.
"Kami juga meminta aparat penegak hukum, khususnya Tipikor Polda Riau, agar segera memanggil dan memeriksa Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) serta kontraktor pelaksana untuk mempertanggungjawabkan penggunaan dana proyek ini," tambah Hariyanto.
Sementara itu, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Andi Yusandi, ST selaku PPK BWSS III Riau menyatakan bahwa proyek masih dalam masa pe
meliharaan dan saat ini sedang dalam proses perbaikan.

Dyna Makmur dari PT Amar Jaya Pratama Grup, tidak memberikan jawaban ketika diminta konfirmasi oleh media hingga berita ini diterbitkan.
Warga setempat pun angkat bicara. Mereka menilai proyek ini gagal sejak awal. Salah seorang warga menyebutkan bahwa metode pemasangan bronjong tidak sesuai standar. “Bronjong diletakkan langsung di atas timbunan tanah, tanpa pondasi yang kuat. Sudah pasti tidak akan bertahan lama,” ujar seorang warga dengan nada kecewa.
Proyek ini sejatinya ditujukan untuk mengatasi ancaman longsor dan melindungi warga di sekitar tebing sungai. Namun, kondisi di lapangan justru menunjukkan lemahnya pelaksanaan dan pengawasan proyek.
Penulis : Hadi Zega
Komentar Anda :